jam

Copyright : Galery Zone - : http://galeryzone.blogspot.com/2012/07/widget-clock-lucu-imut.html#ixzz2KqXMSZ19

gelembung

2/14/2013

pendidikan bahasa indonesia

Pendidikanbahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan mulai dari tingkat pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Akan tetapi yang sangat mengherankan sebagai warga negara Indonesia yang mengenyam pendidikan dan mempelajari bahasa Indonesia masih banyak yang belum mengerti dengan baik bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tertulis. Hal ini terlihat dari masih banyaknya pelajar yang memiliki nilai Ujian Nasional yang masih sangat rendah.

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Di Timor Leste, bahasa Indonesia berstatus sebagai bahasa kerja.

Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Penamaan "Bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan. Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu. Fonologi dan tata bahasa Bahasa Indonesia dianggap relatif mudah. 

Tidak jarang mahasiswa diperlakukan seperti mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia di Fakultas Sastra dan Bahasa. Setelah 12 tahun belajar Bahasa Indonesia, apakah mereka sudah mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara tertulis maupun terlisan?

Lalu bagaimana dengan kemampuan berbahasa Indonesia mahasiswa S2? Seperti halnya mahasiswa D3 dan S1, ternyata sebagian mahasiswa S2 dan S3 juga masih lemah dalam berbahasa Indonesia. Paparan singkat di atas membuktikan ketidakmampuan sebagian (besar?) mahasiswa dalam berbahasa Indonesia, dalam hal ini bahasa tulisan. Lalu apa yang mesti dikerjakan para dosen Bahasa Indonesia yang ternyata tidak semua bergelar sarjana Bahasa Indonesia?

Dengan kata lain, setiap dosen harus mampu menjadi dosen Bahasa Indonesia. Artikel-artikel opini yang berkaitan langsung dan tak langsung dengan bahasa Indonesia yang dimuat di media massa cetak pun jangan pula dilewatkan. Dalam konteks tulisan ini, bukan dosen bahasa Indonesia mengajari mahasiswa, melainkan dosen bahasa Indonesia dan mahasiswa sama-sama belajar bahasa Indonesia. Bila beberapa upaya ini dapat dilaksakanakan sungguh-sungguh dan dengan senang hati oleh para mahasiswa dan dosen bahasa Indonesia, maka kita yakin para lulusan perguruan tinggi kita tidak hanya mampu dan terampil berbahasa Indonesia secara terlisan dan tertulis, tetapi juga sungguh-sungguh mencintai bahasa nasional mereka sendiri

bahasa dan budaya menunjukan nasionalisme



Suatu sore, selepas kursus bahasa jerman yang melelahkan, pihak DAAD (dinas pertukaran akademis jerman), mengumpulkan kami, para penerima beasiswa, ke dalam kelas untuk berbagai macam pengumuman. Macam-macam yang dibahas, mulai dari masalah visa, kumpul keluarga, dan akhirnya, ke masalah apa gunanya mampu berbahasa jerman.
‘Saudara-saudara harus lulus ujian bahasa jerman dasar, baru bisa menginjakkan kaki ke jerman’. Demikian pengumuman dari pihak DAAD , sewaktu mengisi saresehan di Goethe Institut, di selang-selang kami kursus bahasa jerman. Pada awalnya, kami bingung bukan kepalang, mengapa menguasai bahasa jerman itu sebuah keharusan? Bukankah bahasa Inggris saja sudah cukup, karena bahasa internasional? Bukankah orang jerman juga belajar bahasa inggris di sekolah? Akhirnya belakangan kita seangkatan mengetahui, bahwa memang orang jerman bisa bahasa inggris, tapi persoalan apakah mereka mau menggunakan bahasa itu atau tidak, adalah hal yang berbeda.
Nasionalisme Jerman vis a vis Nasionalisme Indonesia
Sewaktu menginjakkan kaki ke jerman, semakin jelas, bahwa bangsa ini sangat menjaga jarak dengan sesuatu yang berbau inggris. Film di Bioskop didubing total dalam bahasa jerman, dan mayoritas film dari US atau UK yang ditayangkan di tv didubing total juga. Di toko buku, seksi buku bahasa inggris ditempatkan di tempat yang terpencil, yang mesti dicari-cari ke pelosok toko. Orang jerman memang senang mendengar lagu/musik Inggris, tapi persoalan apakah mereka mau menggunakan bahasa itu untuk berkomunikasi dengan orang lain, adalah hal yang berbeda. Untung memang, kalau orang jerman yg di universitas, semuanya bisa dan mau berbahasa inggris. Namun diluar ‘tembok’ universitas, itu sudah dunia lain yang jauh berbeda.
Banyak hal yang menunjukkan, bahwa mampu berbahasa jerman di negri gothic ini, akan mempermudah semua urusan. Saya pernah punya pengalaman ganjil, sewaktu mengurus pembukaan rekening di bank, ternyata tellernya tidak bisa bahasa inggris. Saat itu, bahasa jerman sy masih pas-pasan. Untung, ada teller lain yg bisa berbahasa inggris, jadi urusan pun jadi lancar. Sewaktu mencari alamat, atau lokasi yang belum kita ketahui, bahasa jerman satu-satunya yang bisa dijadikan andalan. Termasuk dalam menjalin relasi dengan orang jerman, jika mereka tau kita berberbahasa jerman, mereka akan senang. Walaupun pas-pasan, tapi tidak masalah. Mereka tidak meminta kita untuk sempurna dalam menguasai bahasa mereka.
Apakah yang bisa kita pelajari, dari kasus mewajibkan bahasa jerman bagi para pendatang ini? Sebenarnya sesuatu yang bisa diaplikasikan ke kita juga. Saya bukan meminta semua orang untuk belajar bahasa jerman, dan datang ke jerman. Bukan demikian. Namun dari bangsa jerman, saya belajar sesuatu yang berharga, bahwa BAHASA menunjukkan NASIONALISME. Iya, bahasa menunjukkan jati diri bangsa tersebut. Orang jerman selalu merasa, jika mereka selalu menggunakan bahasa asing, maka jati diri mereka akan terampas. Mereka menerima bahwa bahasa inggris adalah bahasa ilmu pengetahuan, namun untuk pergaulan/sosialisasi dan ekspresi budaya, mereka tetap setia pada bahasa ibu mereka. Dari sini saya belajar, seharusnya bagaimana Indonesia menerapkan nasionalismenya.
Nasib Bahasa Indonesia Sekarang ini
Berbeda dengan jerman, trend Indonesia justru menunjukkan kebalikannya. Berkebalikan dengan Jerman yang mati-matian menjaga kemurnian bahasa, dan bahkan menyebarkan bahasa tersebut ke org non jerman, justru posisi bahasa Indonesia semakin lama semakin terdesak oleh bahasa Inggris. Terjadi fenomena bahasa campuran, dimana bahasa inggris dan indonesia dicampur aduk tidak karuan. Dan terjadilah bahasa kreol, atau bahasa campuran. Hal ini kelihatan sangat nyata pada sinetron kita. Jelas-jelas ada pihak yang mempromosikan penggunaan bahasa campuran model demikian, dan menjadikan sinteron atau media tv untuk mempromosikan bahasa kreol tersebut. Akibatnya, berbeda dengan posisi bahasa jerman, yang tetap tegar bertahan ditengah serbuan bahasa inggris, bahasa Indo semakin lama semakin luntur oleh penuturnya. Tv, dan sintron kita menjadi media utama dekadensi tersebut, karena mereka mempromosikan bahasa kreol, yang mencampur adukkan bahasa inggris dan indonesia. Hal yang sangat meprihatinkan, dan membuat saya mengurut dada berkali-kali.
Hal ini sangat memprihatinkan. Mengapa hal itu bisa terjadi? Banyak yang bilang, ini terjadi karena tekanan pasar. Alasan yang tidak masuk akal, sebab di industri tv dan sinema Jerman sekalipun, walau ada tekanan pasar seperti apa juga, tetap bahasa jerman jadi panglima dan bahasa inggris itu sekunder. Apalagi bahasa kreol/campuran, itu tidak ada tempatnya di industri tv jerman. Alasan semua itu terjadi, karena memang pasar Indo menghendaki kehadiran bahasa campuran, adalah terlalu dicari-cari.
Hanya kita yang bisa menjaga Bahasa Indonesia
Saya pikir, memang diperlukan suatu pengembangan yang terintegrasi terhadap bahasa indonesia. Kita tidak perlu menyalahkan pihak lain dalam hal ini, namun sebaiknya duduk bersama untuk memikirkan hal ini. Saya setuju dengan usul beberapa rekan, bahwa kita memerlukan suatu standar seperti TOEFL atau Zertifikat Goethe, untuk menentukan kompetensi bahasa Indonesia. Kalo kita sekolah atau kerja di jerman, harus mendapatkan sertifikat dari goethe, maka kalo orang bule/orang asing mau sekolah atau kerja harus memiliki kompetenesi setara seperti itu. Sebenarnya, membuat standarnya tidak akan sukar, sebab kita memang memiliki pakar sastra indonesia. Tinggal duduk bersama dan merembukkannya saja.
Namun masalah yang paling penting, sebenarnya balik lagi ke pendidikan. Nasionalisme merupakan sesuatu yang penting untuk ditanamkan ke generasi penerus kita. Adapun, nasionalisme harus diajarkan jangan dengan penuh dogma, sebab para muda-mudi tidak akan suka dengan dogma. Perlu suatu formulasi pendidikan nasionalisme, namun yang tidak dogmatis. Mungkin bentuknya akan berbeda dengan P4 di masa lalu, misalnya, Namun memiliki semangat yang sama.
Satu hal yang saya sadari selama berada di jerman, bahwa nasionalisme saya semakin lama semakin tebal di negri para gothic ini. Berada di negeri, dimana kita menjadi orang asing, dan dianggap ‘aneh’ oleh penduduk asli, justru menjadikan saya semakin lama semakin cinta dengan Indonesia. Bersyukur juga, saya bisa berteman dengan orang jerman, yang justru sangat bersimpati dengan Indonesia. Di mata mereka Indonesia adalah negeri yang kaya, indah, penuh keanekaragaman flora-fauna dan penuh ragam budaya. Justru, menyadari bahwa ada orang jerman yang mati-matian belajar bahasa Indonesia, demi proyek magister mereka, dan sering berkata hal yang positif mengenai Indonesia, menjadikan saya semakin cinta Indonesia. Teman jerman saya, selalu mengatakan bahwa bahasa indo adalah bahasa yang paling mudah, tidak seperti jerman atau inggris yang penuh aturan tata bahasa. Tragis, ditengah banyak orang bule yang belajar serius bahasa indonesia, dan mengapresiasi budaya kita, ada sebagian orang indonesia, yang justru melecehkan dan menginjak-injak bahasa kita, dengan menciptakan bahasa kreol lewat media tv. Sadarkah, wahai bangsa Indonesia, bahwa budaya dan bahasa kita itu sangat dipuja-puja oleh orang asing? Sudah saat kita mulai mengapresiasi bahasa dan budaya kita sendiri!. Indonesia, jauh dimata, namun tetap dekat di hati.

artikel sastra

Beragam dan Bertoleransi

Hampir satu tahun saya tinggal disini, sebuah kota kecil disebelah timur pulau Kalimantan,  kota Bontang tepatnya. Lima jam dari Balikpapan atau bandara Sepinggan.
Jauh memang, tetapi ketika sampai di depan pintu gerbang masuk kota yang kecil dan hijau ini kita akan disambut oleh sebuah bangunan rumah sakit yang cukup gagah yang berdiri paling pojok sebelah barat kota ini. Hijau itulah yang terlihat disini. Hal ini pun diakui oleh temen sealumni saya yang suaminya bekerja di Telkomsel Ahmad Yani.
Ketika saya melewati tiga bulan disini, saya mulai merasa adanya hegemoni masyarakat yang heterogen. Berbagai suku menyatu berbaur bersama-sama membangun sebuah kota kecil ini untuk menyamai kota-kota yang telah maju lainnya. Jawa, sunda, banjar, kutai, dayak, bugis, palembang dan masih banyak yang lain. Mereka datang kesini mengais rejeki seperti halnya saya. Tetapi ketika tidak memandang sebagai satuan individu maka akan terlihat bahwa kehadiran mereka disini adalah salah satu komponen bangsa untuk menciptakan kemajuan di suatu wilayah Timur Kalimantan.
Untuk menciptakan itu bahasa merupakan salah satu partikel fundamental yang memberikan kontribusi paling banyak. Orang jawa menggunakan bahasa Jawa, orang sunda terbiasa dengan bahasa Sundanya dan Kutai dengan dengan bahasanya. Bagaimana jika ketiga orang tersebut yang memiliki latar belakang budaya berbeda. Disinilah terlihat sekali jika bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa penyatu, yang menjembatani agar kami bisa saling mengerti dan memahami.
Bahasa Indonesia sebagai bahasa penyatu tidak berdiri sendiri begitu saja. Tolerasi dan sikap tentu juga menjadi bumbu yang dinamis agar komunikasi bisa tersampaikan satu sama lain. Kenapa? budaya berbeda maka adatnya pun berbeda. Sebagai contoh orang batak memiliki tabiat yang begitu keras, orang jawa lebih kalem. Jiwa yang kalem tidak bertoleransi pada seorang Batak,entah apa jadinya. Bukannya maksut tersampaikan malah bisa-bisa akan bertengkar.
sumber :  http://tulisanria.wordpress.com/category/jenis-tulisan/artikel-sastra/

bahasa dan budaya

Budaya yaitu segala sesuatu yang harus diketahui [nilai dan norma] dan dilaksanakan oleh orang agar dapat bersosialisasi dengan masyarakat lain. Indonesia memiliki banyak ragam budaya dan bahasa yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Hipotesis Whorf [WHORFIAN HYPOTHESIS]
Struktur bahasa sangat mempengaruhi bagaimana pembicara memandang dunia serta hubungannya dengan dunia luar [eksternal]. Oleh karena itu jenis kosakata, susunan kosakata/kalimat, dan tata bahasa sangat mempengaruhi perilaku seseorang.
Kesimpulannya: sebenarnya sebuah Bahasa melengkapi penggunanya dengan system pengetahuan tentang bahasa lain [metalingua: penhgetahuan tentang unsure internal bahasa itu sendiri] sehingga pengguna mempunyai bekal jika berhadapan dengan pengguna bahasa lain.
Sistem kekerabatan
Kekerabatan berarti berbicara seputar ikatan darah, pernikahan, gererasi penerus, umur, dan level seseorang dalam keluarga yang sangat penting dalam organisasi social.
Dalam berbagai budaya ada beberapa fakta tentang bahasa dalam nama kekerabatan:
1. nama jenis kekerabatan digunakan oleh orang yang jelas-jelas bukan anggota kekerabatan. Misalnya dalam Budaya Vietnam; Pnggilan Kakak perempuan digunakan juga untuk memanggil teman dekat anak teman orangtua kita.
2. perbedaan jenis hubungan kekerabatan dipanggil dengan nama yang sama. Misal [Menurut Hundson, 1980] satu nama panggilan menunjukkan jenis jabatan kekerabatan yang beda pada suku Njamal [Aborigin Australia] Pangilan ayah dapat dipakai untuk Ayah kandung, paman, dan om.
Jika kondisi social berubah kita bisa menebak bahwa system kekerabatan akan berubah menyesuaikan dengan kondisi yang baru. Keenderungan sekarang, nama panggilan dalam hubungan kekerabatan menjadi satu kata daripada satu frase, misal: adik laki-laki ayah = paman.
Taksonomi
Taksonomi bahasa ialah salah satu cara untuk mengklasifikasi bagian tertentu dalam bahasa sehingga menimbulkan suatu rasa pas yang dapat digunakan dalam masyarakat. Misal level penggunaan bahasa dan jenis kata ganti oarng dalam Bhasa Palaung [Bahasa yang digunakan oleh orang Burma].
Jenis warna
Jenis warna dapat digunakan untuk meng-explore hubungan antara bahasa dan bahasa. Kadang-kadang kita tidak bisa langsung menerjemahkan macam-macam warna dari satu bahasa ke bahasa lain tanpa memasukkan sedikit perubahan pada maknanya.
Jenis warna [menurut Berlin dan Kay] tergantung pada beragamnya budaya dan teknologi [peralatan] yang digunakan.
2 kesimpulan tentang jenis warna:
1. tidak perduli jenis bahasa apa yang digunakan orang, spectrum warna disusun secara sitematis.
2. suatu budaya mempunyai tipikal/jenis warna konsisten dan seragam yang disepakati oleh masyarakat pengguna.
Teori Prototype
Konsep-konsep sering dianggap sebagai prototype yang mana masyarakat kenyataannya mengklasifikasi suatu obyek secara konsisten berdasarkan jenis/macamnya.
Menurut Hundson, teori prototype memberi kemungkinan, jika kita berkominikasi kita tidak hanya melihat konsep yang mungkin dibentuk tetapi bagaimana kita memperoleh kompetensi social dalam penggunaan bahasa. Jadi saat kita berbicara kita harus menyesuaikan bahasa dengan situasi dan lawan bicara yang memandang konsep itu.
Tabu dan eufimisme
Kosakata Tabu ialah kosakata yang dianggap tidak pantas untuk diucapkan yang disebabkan alasan magis, kode moral, dan penghindaran dari sesuatu yang merugikan anggota kelompok. Beberapa kasus Bahasa Tabu muncul dalam kondisi Bilingual [haas, 1951], misal: orang Thailand tabut mengucapkan “yet” dalam Bahasa Inggris karena “jed” dalam Bahasa Thai berarti bersenggama.
Eufimisme ialah kondisi dimana masyarakat menghindari kata-kata tabu dengan memperhalus kosakata. Dengan mewadahi kata-kata tabu [mewujudkan kosakata dalam bentuk kosakata lain], eufimisme lebih sering digunakan dalam masyarakat.
Eufimisme memberi kenetralan masyarakat dalam mengungkapkan kosakata yang tidak enak didengar sehingga menjadi kosakata yang pantas diucapkan.
sumber :  http://www.untukku.com/artikel-untukku/bahasa-dan-budaya-untukku.html

ARTIKEL - BAHASA DAN BUDAYA ASPEK SINKRONISASI

ARTIKEL - BAHASA DAN BUDAYA ASPEK SINKRONISASI

     Indonesia dikenal sebagai bangsa yang memiliki banyak bahasa daerah yang tersebar di pelosok tanah air. Bahkan menjadi salah satu bangsa yang memiliki jumlah bahasa ibu terbesar di seluruh dunia. Jumlah bahasa pribumi itu mencapai 360 bahasa. Tentu prestasi itu tidak serta merta menjadi penyebab banyaknya warga negara asing yang mengacungkan jempol bagi bangsa kita. Belum lagi familiarnya dengan kesantunan berbahasa ala Sunda.

      Bahkan semua orang di negeri ini pernah mendengar pemimpin bangsa berpidato dengan bahasanya yang khas. Sebut saja Soekarno atau presiden baru kita, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Beliau pernah menerima penghargaan sebagai pejabat yang menggunakan bahasa paling santun se-Indonesia pada tahun 2003. SBY patut menjadi teladan bagi para pejabat di negeri ini yang senang berkoar-koar di hadapan publik. Belum lagi gelar yang disandang sebagai wakil rakyat yang memang mengharuskan mereka berbahasa yang baik dan yang lebih penting bukan sekadar retorika tanpa makna.

      Bahasa yang santun... di manapun kita berada menjadi salah satu modal yang sangat penting dalam menjalin komunikasi dengan orang lain. Komunikasi dengan orang di sekitar kita, entah pribumi ataupun warga negara asing. Kesantunan berbahasa menjadi mutlak kita perlukan. Kalau kesantunan berbahasa yang setidaknya dimiliki oleh semua orang pada semua kelas atau level, maka menjadi tugas bersama untuk menjadikannya sebagai ciri khas bangsa yang benar-benar terealisasi. Sehingga, para tourist yang datang di Indonesia tidak hanya merasa bahwa kesantunan berbahasa yang kita gunakan bukan hanya sekadar terori yang dibuat-buat atau sekadar rekayasa berbudaya.

Budaya dan Berbahasa
      Budaya kita populer dengan keragaman dari aspek kesenian. Sedangkan bahasa kita populer dengan keragaman dari aspek kedaerahan. Kalau keragaman berbahasa yang pada intinya harus sinkron dengan cara kita berbudaya, maka akan menjadi sesuatu yang sulit tercapai. Mengapa? Apa jadinya kalau masyarakat Bugis-Makassar yang kental dengan kasarnya budaya berbahasa, harus menyesuaikan diri dengan gaya berbahasa masyarakat sunda yang lebih halus, lebih lembut. Maka, solusinya adalah mengembalikannya sesuai kesantunan kita berbahasa yang sesuai nilai-nilai atau norma konvensional dalam masyarakat kita. Mengapa harus susah-susah melipat lidah kalau budaya berbahasa kita kasar atau lebih lembut. Bukankan kesantunan dalam berbahasa dan berbudaya itu terletak pada dan bagaimana kita mensinkronisasikan keduanya sehingga dapat diterima dengan baik dan bijak oleh masyarakat luas.

    JAYALAH BANGSAKU!!
Kita ini bangsa yang memiliki budaya sendiri. Ditambah nilai plus dari keragaman bahasa yang khas. Tunjukkan bahwa kita bukan milik orang lain atau pun sekadar klaim yang tidak berdasar.
sumber  http://chipachupz.blogspot.com/2010/10/bahasa-dan-budaya-aspek-sinkronisasi.html

budaya provinsi D.I yogyakarta

Kebudayaan

Wujud cagar budaya yang masih dipergunakan sebagai tempat ibadah umat Hindu Indonesia
[32]DIY mempunyai beragam potensi budaya, baik budaya yang tangible (fisik) maupun yang intangible (non fisik). Potensi budaya yang tangible antara lain kawasan cagar budaya dan benda cagar budaya sedangkan potensi budaya yang intangible seperti gagasan, sistem nilai atau norma, karya seni, sistem sosial atau perilaku sosial yang ada dalam masyarakat.
DIY memiliki tidak kurang dari 515 Bangunan Cagar Budaya yang tersebar di 13 Kawasan Cagar Budaya. Keberadaan aset-aset budaya peninggalan peradaban tinggi masa lampau tersebut, dengan Kraton sebagai institusi warisan adiluhung yang masih terlestari keberadaannya, merupakan embrio dan memberi spirit bagi tumbuhnya dinamika masyarakat dalam berkehidupan kebudayaan terutama dalam berseni budaya dan beradat tradisi. Selain itu, Provinsi DIY juga mempunyai 30 museum, yang dua di antaranya yaitu Museum Ullen Sentalu dan Museum Sonobudoyo diproyeksikan menjadi museum internasional. Pada 2010, persentase benda cagar budaya tidak bergeak dalam kategori baik sebesar 41,55%, seangkan kunjungan ke museum mencapai 6,42%[33].

bahasa dan budaya provinsi DKI jakarta

 

jakarta

 

Kebudayaan daerah jakarta

Posted on 8:29 PM by Agazhw


Jakarta adalah ibu kota Indonesia, negara tercinta. tentunya didalam ibukota sendiri memiliki kebudayaan asli yang menjadi ciri khas kota tersebut. terutama di Jakarta, dimana banyak orang yang ingin datang mencoba peruntungan di kota besar ini. namun banyak yang dilupakan oleh warga maupun pemerintahan bahwa JAKARAT JUGA MEMILIKI KEBUDAYAAN YANG PERLU DILESTARIKAN. banyak kebudayaan kota jakarta. dimana suku asli yang tinggal dijakarta adalah suku betawi. Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Melayu dan Tionghoa.
keunikan suku ini banyak salah satunya yaitu ondel-ondel, logat berbicara(yang banyak dibilang orang kampungan), makanan serta rumah dan tarian. dijakarta ada tempat membudiyakan kebudayaan betawi salah satunya yaitu setu abbakan terdapat didaerah jakarta selat.
Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tionghoa, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab,dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong.
Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tiongkok, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab,dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an.
Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Mereka adalah hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu. sayangnya walau sebagai penduduk asli kota jakarta kebudayaan yang begitu bagus terabaikan oleh pemerintah.
pada masa kejayaan suku betawi dipelopori oelh benyamin sueb. siapa yang tidak mengenal beliau. beliau yang secara tekun dan tidak malu mengakui kebudayaan betawi.
 

Budaya dan Bahasa

Budaya Jakarta merupakan budaya mestizo, atau sebuah campuran budaya dari beragam etnis. Sejak zaman Belanda, Jakarta merupakan ibu kota Indonesia yang menarik pendatang dari dalam dan luar Nusantara. Suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain, Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan Bugis. Selain dari penduduk Nusantara, budaya Jakarta juga banyak menyerap dari budaya luar, seperti budaya Arab, Tiongkok, India, dan Portugis.
Jakarta merupakan daerah tujuan urbanisasi berbagai ras di dunia dan berbagai suku bangsa di Indonesia, untuk itu diperlukan bahasa komunikasi yang biasa digunakan dalam perdagangan yaitu Bahasa Melayu. Penduduk asli yang berbahasa Sunda pun akhirnya menggunakan bahasa Melayu tersebut.
Walau demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai yang masih tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti kata Ancol, Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng, dan lain-lain yang masih sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah kuno Bujangga Manik[19] yang saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris.
Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa informal atau bahasa percakapan sehari-hari adalah Bahasa Melayu dialek Betawi. Untuk penduduk asli di Kampung Jatinegara Kaum, mereka masih kukuh menggunakan bahasa leluhur mereka yaitu bahasa Sunda.
Bahasa daerah juga digunakan oleh para penduduk yang berasal dari daerah lain, seperti Jawa, Sunda, Minang, Batak, Madura, Bugis, Inggris dan Tionghoa. Hal demikian terjadi karena Jakarta adalah tempat berbagai suku bangsa bertemu. Untuk berkomunikasi antar berbagai suku bangsa, digunakan Bahasa Indonesia.
Selain itu, muncul juga bahasa gaul yang tumbuh di kalangan anak muda dengan kata-kata yang kadang-kadang dicampur dengan bahasa asing. Bahasa Inggris merupakan bahasa asing yang paling banyak digunakan, terutama untuk kepentingan diplomatik, pendidikan, dan bisnis. Bahasa Mandarin juga menjadi bahasa asing yang banyak digunakan, terutama di kalangan pebisnis Tionghoa.
sumber: google dan wikipedia